Spanish-Balinese Cultural Clash at Museum Blanco Ubud

Spanish-Balinese Cultural Clash at Museum Blanco Ubud

Sebelumnya Cony dan Brown nggak mengira kalo Ubud itu tempatnya cozy banget, jauh lebih nyaman dibandingkan Kuta dan sekitarnya. Selain lebih sepi, lingkungannya jauh lebih berbudaya, sejuk dan menyenangkan dengan barisan toko-toko kecil di sepanjang Jalan Hanoman. Salah satu daya tarik Ubud menurut kita adalah kekayaan budaya dan seni dari museum-museum yang ada disini, salah satunya Museum Antonio Blanco. Museum ini adalah rumah bagi kumpulan karya Don Antonio Blanco, pelukis asal Spanyol yang akhirnya bermukim di Bali dan menikahi seorang penari Bali bernama Ni Rondji.

Cony dan Brown (pada waktu itu kita menyewa motor), berangkat pagi-pagi dari hotel, maksudnya supaya dapat suasana pagi di Museum Blanco. Soalnya, suasana di sekitar museum itu nyaman dan alami banget, dengan pepohonan rindang dan taman-taman. Tapi berhubung museumnya baru buka jam 9 pagi, akhirnya kita putuskan untuk cari sarapan dulu.

Well, ternyata cari sarapan pagi di Ubud juga nggak lebih mudah. Resto-resto yang semalem ‘begadang’ di sekitar hotel masih pada tutup, kecuali The Marzano Pizzeria yang kelihatan sudah ada mas dan mbaknya di dalam. Tapi karena masih pagi dan malas makan pizza, kita putuskan untuk keliling di Jalan Hanoman dan Wenara Wana, balik lagi, nggak nemu juga. Akhirnya nyerah, kita makan di Marzano. Right decision. Burgernya enak! (Pizza belum ada karena ovennya belum panas katanya)

Sarapan unyu di Marzano Pizzeria

Sarapan unyu di Marzano Pizzeria

Ternyata burger ini enak banget!

Ternyata burger ini enak banget!

Udah kenyang, waktunya menyambangi Museum Blanco. Museumnya terletak tepat setelah jembatan Tjampuhan, yang dibawahnya ada Pura Tjampuhan (sayangnya sedang renovasi, jadi nggak didatangi). Gerbang museumnya besar, bentuknya lucu, bernuansa Bali tapi sedikit beda sih, dan berpotensi kelewatan karena letaknya agak menjorok kedalam.

Begitu masuk gerbang, Cony dan Brown tiba di tempat parkir yang dikelilingi tebing. Di atas tebing berdiri pura yang megah dan cantik, dipayungi pohon banyan raksasa yang umurnya pasti sudah ratusan tahun. Museum ini unik, sangat unik malah. Pintu masuknya berbentuk bulat, jadi ingat pintu rumah hobbit di cerita The Lord of The Rings. Cuma yang ini nggak ada daun pintunya. Setelah melewati pintu dan naik tangga, kita disambut taman dan patung-patung khas bali, lengkap dengan sesajennya. Di tengah taman ada air mancur, khas hacienda ala Spanyol. Memang betul-betul fusion antara budaya Bali dan Spanyol.

Di sebelah kiri, ada restoran Ni Rondji yang letaknya agak tinggi. Restorannya nyaman dan teduh, dipayungi pohon-pohon rindang, bergaya semi outdoor. Cozy banget lah. Tapi waktu itu kita mutusin untuk keliling di museumnya dulu, dan langsung beli tiket masuk di loket. Harga tiketnya 30.000 rupiah per-orang, termasuk drink yang bisa dinikmati di restonya.

Begitu masuk, kita langsung tahu kalo semua review yang kita baca di internet betul. Tamannya cantik, penuh tanaman dan bunga-bunga khas daerah tropis, dengan arsitektur bangunan ecclectic yang maknanya cuman dipahami oleh senimannya aja sepertinya ^_^. But what made me excited so much adalah mini bird-park di taman, dimana banyak burung nuri raja, kakatua, nuri biasa, dan burung toucan jinak yang bisa kita pegang di tangan. Disitu ada petugas yang memandu kita untuk berfoto sama burung-burung cantik itu. Wah, Cony dan Brown langsung narsis!

Untuk koleksi lukisannya ada di bangunan utama, dan didalamnya kita nggak boleh ambil foto. Koleksi lukisan memenuhi dinding rumah besar dua lantai. Mayoritas lukisannya bergaya naturalis, dengan banyak obyek perempuan dan penari bali nude dan half-nude. Ada juga karya-karya scrap Don Antonio, dengan berbagai catatan mengenai pemikiran si seniman. Well, I’m not an expert in this corridor, yet I was impressed.

Jam buka Museum Blanco mulai pukul 09:00 – 17:00 setiap harinya. Tarif untuk wisatawan domestik Rp. 30.000,- sedangkan wisatawan asing Rp 50.000,-.

Welcome drink

Welcome drink

Resto Ni Rondji

Resto Ni Rondji

Cony, Brown and Friends!

Cony, Brown and Friends!

Mejeng bareng burung.

Mejeng bareng burung.

Naga

Naga

Pintu masuk ruang pameran.

Pintu masuk ruang pameran.

Lucu-lucu kan?

Lucu-lucu kan?

Buat Kamu yang Mau Kesana…

Museum Blanco ada di Jalan Campuhan, Ubud, nggak jauh dari Monkey Forest. Dari Monkey Forest lurus aja, sampai ketemu perempatan Istana Ubud, belok kiri. Terus ikuti jalan sampai ketemu jembatan diatas sungai Campuhan (kalo nggak salah dekat Murni’s Warung). Museum Blanco persis berada di sebelah jembatan tersebut.

Alamatnya:

Blanco Museum

Jl. Tjampuhan Ubud Bali Indonesia Tjampuhan/Ubud

Phone: 0361 975502; Fax: 0361 975551

Website: http://www.blancomuseum.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s