The Holy Water of Tirta Empul

Ini pertama kalinya saya mengunjungi Pura Tirta Empul bersama Cici, dalam perjalanan pulang ke Kuta dari Kintamani. Saya tertidur dalam perjalanan, dan baru bangun setelah Gus de parkir di halaman parkir pura. Waktu itu hujan rintik-rintik dan kita sempat ragu, apakah mau masuk atau tidak. Tapi kare Gus de bilang “Di dalam bagus!” akhirnya kita memutuskan masuk… Yah mumpung di Bali kann.. Kapan lagiii -_-

Di depan salah satu gerbang

Di depan salah satu gerbang

FYI, Tirta Empul adalah sebuah pura yang terletak di daerah Manukaya Let, Tampaksiring. Pintu masuknya tidak begitu terlihat kalo nggak diperhatikan benar, dan ada di sebelah kiri jalan kalo dari arah Kuta. Tirta Empul yang artinya “air yang memancar”  ini memang terkenal dengan adanya mata air suci yang memancar dari dalam tanah, dan juga terkenal dengan adanya Istana Kepresidenan Tampaksiring yang dibangun pada 1954. Istana ini tadinya rumah pejabat Belanda. Tapiiiii… jujur aja nih ya, bangunan “modern” yang ada di latar belakang itu koq kebanting yaaa sama kecantikan pura-nya sendiri.. hehehe…

Latar belakang Istana Tampaksiring.

Latar belakang Istana Tampaksiring (dengan kain dan selendang pura…:))

Sudah lebih dari ribuan tahun masyarakat Bali bersembahyang dan mandi di mata air Tirta Empul, mata air yang menurut kepercayaan setempat dibuat oleh Batara Indra untuk memakmurkan dan mensuburkan tanah. Tradisi ini terus berlangsung hingga saat ini. Mata air yang berasal dari tanah dipagari oleh tembok batu berukir ragam hias khas Bali, dan dialirkan terbagi menjadi 12 pancuran yang airnya mengalir kedalam sebuah kolam besar.

Peziarah mandi dan berendam di kolam ini, dibawah masing-masing pancuran yang memiliki khasiat tersendiri. Ada yang airnya dipercaya memperbaiki hubungan rumah tangga, menolak bala, menolak roh jahat, dan sebagainya. Seru banget sih dengar cerita guide kita waktu itu (oh ya, waktu itu kita ditemani guide orang Bali, bapak2 tua yang tiba2 ngikutin, tapi kita nggak enak nolaknya… ya udah sekalian aja dengerin ceritanya beliau…). Pengen sih percaya, tapiiiii kan… hmmmm  -_- tapi teteeep aja kita cuci muka trus minum air dari salah satu pancuran…hihi. Kata guide kita, air disini lebih bagus kualitasnya daripada air mineral kemasan (sudah pernah diteliti secara ilmiah). Penduduk sekitar juga selalu ambil air ini untuk keperluan minum dan masak, dan bisa langsung dikonsumsi tanpa dididihkan terlebih dulu.. keren yaaa… ^_^

Fyi, kalo mau cuci muka, mandi atau minum airnya, minum hanya air yang mengucur dari kendi2 itu aja yaaa, jangan yang di kolam (walau masih kelihatan jernih). Air yang di kolam kan udah bekas pakai, nah air bekas pakai inilah yang nanti kembali disalurkan dan dimanfaatkan untuk irigasi.

Komplek Pura Tirta Empul memiliki beberapa gapura dan beberapa pura yang dipersembahkan untuk dewa Siwa, Wisnu, Brahma, dewa Gunung Batur, dan Indra. Ada juga paviliun terbuka di bagian depan yang dipakai untuk beristirahat. Di paviliun ini juga sering diadakan upacara adat, dan turis boleh menonton. fyi, kalo mau nonton acara keagamaan, sebaiknya duduk untuk menghormati tradisi. Soalnya, pendeta di Bali dianggap menduduki kasta tertinggi, dan posisi mereka harus selalu lebih tinggi dari orang lain (khususnya pas upacara keagamaan itu).

12 pancuran dari mata air suci dengan berbagai khasiat.

12 pancuran dari mata air suci dengan berbagai khasiat. Ini airnya dinginnn banget lhooo….

Untuk masuk ke dalam kompleks pura, kita membayar tiket 15.000 rupiah/orang dan harus memakai kain dan selendang pura, untuk menghormati. Selama jalan2 didalam, kita ganti guide. Guide kali ini bapak-bapak yang nggak terlalu tua. Bapak ini sebetulnya tukang foto keliling yang hasilnya bisa langsung jadi, kalo kita mau.

Ada satu hal yang saya kagumi dari pribadi orang Bali. Mereka memang intinya menjual sesuatu pada kita (baca: turis), entah jasa ataupun rupa. Tapi cara mereka itu yang harus diacungi jempol. Mereka nggak segan2 untuk memberi terlebih dahulu sebelum menerima. Memberi keramahan, memberi pelayanan, dan apa-apa yang kita butuhkan, yang sebelumnya nggak kita sadari. Untuk beberapa kasus, seperti bapak fotografer ini, mereka bahkan nggak maksa kita untuk beli sesuatu dari mereka. Pada akhirnya, kalo kita mau, kita bisa beli. Kalo kita nggak mau, ya tinggal ditolak saja. Tapiii…. mereka jago banget bikin kita nggak enak buat nolak -_-, dan akhirnya kita bersedia untuk beli 2 lembar foto. Nggak nyesel, hasil cetakannya memang bagus. Lagipula lumayan untuk kenang-kenangan.

Oh ya, satu lagi, kalo mau beli apa-apa di Bali, biasakan nawar! Tawar, tawar, tawar. Bukannya mau jahat, tapi memang itulah kebiasaannya. Mereka juga nggak masalah ko kalo ditawar, dan biasanya akan memberikan harga bagus kalo kita memang serius. Untuk foto di Tirta Empul, foto standar ukuran 5R, satu lembar kita ditawari 25.000 rupiah. Setelah ditawar, kita dapat harga 30.000 rupiah untuk 2 lembar foto.

FYI, untuk turis bule, biasanya harga yang diberikan akan jauh lebih tinggi. Bisa dua kali lipat! Misalnya nih, saya pernah beli baju harga 60.000, pas dijual ke bule, harganya jadi 100.000. Kalo masuk objek wisata juga, turis lokal misalnya 15.000, untuk mancanegara bisa 25.000 – 30.000 -_-

Makanya, bersyukurlah jadi orang Indonesia.. paling gak, bisa hemat 50% selama liburan di Bali…hehe🙂

XOXO

Cony.

Bagian dalam komplek pura.

Bagian dalam komplek pura.

Berlatarkan bangunan kuno (banget) katanya... udah ribuan tahun dibangun..

Berlatarkan bangunan kuno (banget) katanya… udah ribuan tahun dibangun..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s