Pilihan Itu, Domainnya Siapa?

Camera 360

Just tried to figure out, kenapa kadang ada kejadian-kejadian yang tidak kita inginkan, yang tidak kita duga, dan menurut kita tidak penting. Selama ini saya punya pandangan bahwa semua hal diciptakan dan dibiarkan terjadi dengan tujuan-tujuan tertentu. Seperti halnya setiap individu yang lahir dengan maksud-maksud khusus (mungkin ini sebabnya ada kata bijak “setiap orang istimewa?”). Setiap kali muncul pemikiran-pemikiran seperti itu, saya langsung tersentak dan segera menarik diri, sadar bahwa saya telah melampaui domain Tuhan. Tapi baru-baru ini saya terganggu dengan pemikiran yang mungkin konyol. Sejak kecil telah sering kita menelan draft yang entah atas dasar apa mengatakan bahwa hidup itu pilihan. Kamu pilih jalan kebaikan, ya kamu jadi orang baik. Kamu pilih jalan yang salah, kamu jadi penjahat. Kamu pilih jalan aman, kamu jadi pecundang.

Well, saya tidak akan mengingkari anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia, yaitu dua jalan kebaikan dan keburukan. Manusia memakai akal pikiran untuk menentukan langkahnya. Tapi benarkah langkah tersebut kita yang menentukan, atau Tuhan yang menentukan? Tuhan tahu siapa yang nantinya jadi jahat, masuk neraka, dan Dia juga tahu siapa yang nantinya kekal di surga. Jadi pilihan itu sebenarnya masuk domain mana? Pemikiran ini bahaya sebenarnya, dan sebaiknya dilupakan saja. Tapi, balik lagi ya, semua kejadian, diinginkan atau tidak, dipilih atau tidak, kalau Tuhan mau, pasti terjadi. Bahkan semua kejadian yang kita pikir ada didalam ranah kita. Hingga akhirnya saya sampai kepada satu kesimpulan yang entah salah atau benar, tapi melekat kuat tidak mau lepas dari otak saya, bahwa KITA TIDAK PUNYA HAK PILIH. Who the hell are we to choose?

Selama ini saya selalu mengagungkan tangan, kaki, dan kepala saya. Tiga hal yang memberikan kekuasaan atas dunia, memberikan ego, kesombongan, superioritas, intuisi, prestasi, kekalahan, kekuatan, tekad, tanda-tanda pada peta, kelemahan, kenyang, lapar, kejayaan, derita dan jalan lain yang “seharusnya” berada dibawah kekuasaan ujung pena saya. Namun nyatanya, serapi apapun kita menyusun, dalam sekali jentikan tangan Tuhan mengubah segalanya. “Merampas” semua yang telah kita pilih dan pada akhirnya memaksa kita untuk “memilih” hal-hal lain.

Pilihan yang “dipaksakan” bukanlah kebebasan. Tapi saya sangat percaya pada Dzat agung yang telah menciptakan seluruh alam semesta ini. Dia yang maha berkuasa dan maha pengasih tidak akan tega menistakan ciptaannya, tidak akan tega mendorong saya dari pinggir tebing, kecuali ada tujuannya. Lagi-lagi disini saya mempergunakan hak pilih semu yang diberikan, yaitu memilih untuk dipilihkan. Sang Maha Terpercaya tidak akan memberikan racun pada saya. Ia akan membawa saya ke tempat terbaik, melalui jalan terbaik, dan dengan tujuan yang terbaik buat saya. Jadi, apa salahnya membiarkan Tuhan yang memilihkan? Dialah yang paling tahu apa yang terbaik.

Tepat atau tidak, yang jelas “pilihan” ini menentramkan hati saya, membuat langkah tegap kembali menghantam aspal berpasir di sebuah komplek perumahan di Jakarta Timur. Pemikiran inilah yang membuat saya bisa mantap berjalan menuju kantor di pagi hari, dan menyimpan mengamankan kotak inspirasi untuk dibuka pada malam hari. Kejadian-kejadian yang membuat saya teralihkan baru-baru ini, yang menyita energi, menggagalkan tekad menghemat emosi, dan menyuramkan pikiran tidak lagi mengganggu saya. Bahkan, walaupun masih berasa pingin lempar kursi ke tembok setiap kali ingat, perlahan hati saya kembali sejuk. Saya tahu pasti, kejadian seperti ini selalu terjadi dengan maksud tertentu; entah apa. Saya tidak begitu tertarik lagi untuk korek sana-sini. Lebih baik serahkan pada waktu.

So… The point is, no matter what you left behind, or what you choose to be.. pilihan sejati tidak ada di tangan kita. Silakan memilih hal-hal praktis anda: karir, uang, tempat liburan, penghargaan pulitzer, tempat anda nantinya dimakamkan. Selalu melangkah diatas jalan putih, karena nantinya Sang Pemilih Sejati akan memilihkan yang terbaik buat anda.

xoxo,

LUNA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s