Museum Bank Indonesia: Standing Applause!

"Nenek Moyangku Orang Pelaut, bukan semboyan kosong..." (miniatur Kapal Jawa / Jung Java)

“Nenek Moyangku Orang Pelaut, bukan semboyan kosong…” (miniatur Kapal Jawa atau Jung Java)

Setelah memikirkan beberapa judul untuk artikel ini, saya rasa tidak ada yang lebih tepat daripada judul diatas. Bagaimana tidak, bangunan putih cemerlang diantara debu dan panas kota Jakarta ini mampu memberikan keteduhan dan hiburan tersendiri bagi pengunjungnya, dengan cara yang LUAR BIASA. Saya tidak pernah mengira akan begitu menikmati kunjungan ke museum. Bahkan, museum tidak pernah masuk kedalam daftar penjelajahan saya dan Brown.

Dalam bayangan saya, museum adalah tempat yang tua, lembab, spooky, dengan koleksi usang dan bau jamur. Namun Museum Bank Indonesia mengubah dan memutarbalikkan semua paradigma itu. Museum BI was so amazing! Why? Well, these are the points…

1# Gedung yang Terawat dengan Baik

Gedung Museum Bank Indonesia adalah salah satu peninggalan sejarah, bekas gedung Bank Indonesia Kota. Dulunya bangunan ini dipakai oleh cikal bakal BI, yaitu De Javasche Bank, dan dibangun pertama kali pada tahun 1828. Bayangkan, bangunan setua itu, masih kelihatan bersih dan kinclong di tahun 2013 ini! Tidak ada kesan usang atau menyeramkan pada bangunan ini (saat siang). Setiap sudut Museum BI yang didatangi pelanggan selalu bersih, apik dan enak dipandang. Lebih jauh mengenai bangunan, akan dipajang di artikel selanjutnya ya.

bunga teratai museum bi

Teratai bermekaran di pelataran luar Museum BI.

2# Penyajian yang Menarik

Museum BI berhasil menjadikan sejarah bank menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk ditelusuri. Saya merasa seperti terserap masuk kedalam lembar-lembar sejarah, dan semua yang pernah saya pelajari di bangku sekolah (yang dulu membuat saya ngantuk saat membacanya) seolah hidup dan menarik saya memasuki sebuah petualangan yang menyenangkan. Mulai dari sejarah penjajahan di Tanah Air, penguasaan Portugis, Inggris, Belanda, Jepang, hingga akhirnya merdeka dan Bumi Nusantara mulai berupaya berjalan diatas kaki sendiri, semua dikemas dengan menarik. Layar-layar televisi LCD 50″ tersebar di banyak area, dan pengunjung bisa memutar video sendiri. Selain itu, museum ini juga memiliki ruang teater sendiri lho. Film-filmnya diputar secara berkala.

Fakta-fakta sejarah disajikan dalam berbagai bentuk, seperti patung-patung yang mensimulasikan keadaan di zaman dulu, seni instalasi yang merepresentasikan keping-keping sejarah Indonesia (dan Bank Indonesia), berbagai foto, miniatur, dan keterangan tertulis yang menyertainya disajikan dengan elegan dan menarik. Museum BI juga memiliki satu ruangan penuh koleksi uang mulai dari masa Pra-Kolonial, Kolonial, hingga zaman Kemerdekaan. Saya dan Brown tidak hentinya terkagum-kagum dengan segala hal yang ada disini.

museum bank indonesia gedung

A futuristic side

museum bank indonesia pohon

Pohon waktu

museum bank indonesia 20

Cara menyenangkan belajar sejarah

museum bank indonesia 18

Keren banget lho displaynya

museum bank indonesia 17

Layar TV LCD

museum bank indonesia 16

Replikasi pemberontakan pasca-kemerdekaan

museum bank indonesia 15

De Javasche Bank

museum bank indonesia 14

Klerk Belanda

museum bank indonesia 13

Transaksi apa ya

museum bank indonesia 12

Mau beli dong mas…

museum bank indonesia 11

“Pokoknya buat bank dulu…!”

museum bank indonesia 10

Bersaing buntung, bersatu untung.

museum bank indonesia 9

Oeang-oeang jadoel yang lutju-lutju

museum bank indonesia 8

Novel yang membuka mata dunia Eropa akan penjajahan di Indonesia.

museum bank indonesia 7

Sudut favorit saya…:)

museum bank indonesia 6

The reason of invasion…

museum bank indonesia 5

Nenek moyangku, pedagang dan pelaut.

museum bank indonesia 4

The travelers

museum bank indonesia 3

Nice mural eh?

museum bank indonesia 2

Serasa di balik loket penjara jaman dulu banget

logo BI

Transformasi logo BI

3# Tempat yang Nyaman

Kenyamanan Museum Bank Indonesia tidak kalah dengan kenyamanan sebuah mall elit di Jakarta. Suhu ruangan nyaman, dengan AC yang memberikan kesejukan. Saya dan Brown jadi betah berlama-lama disini. Tidak terasa, dua jam lebih kita habiskan untuk menjelajah seluruh area museum! Oh ya, kamar mandinya juga bagus. Tidak kalah dengan kamar mandi mall. Hanya mungkin petugas cleaning service harus lebih rajin membersihkan, karena pengunjung membludak di akhir minggu. Selain itu, untuk memastikan kenyamanan sesama pengunjung (dan alasan keamanan juga) semua tas harus dititipkan di depan pintu masuk. Senangnya bebas dari tasku yang berat!

Jangan lupa menyebutkan masjid keren dan nyaman di halaman belakang🙂

4# Masuknya Gratis

Mengingat semua hal yang WAH di dalam sana, saya tidak akan percaya (kalo belum pernah mencoba sebelumnya) kalo masuk museum ini gratis alias TIDAK DIPUNGUT BIAYA SAMA SEKALI. Waw… I think it is the best thing about this museum! Saya membayangkan semua biaya pembuatan, perawatan dan operasional dari museum sebesar dan sebagus ini, kok bisa ya masuknya gratis? (ya iyalah… yang punyanya kan megang duit semua orang di negara ini…hahaha). Yah, manfaatkanlah kesempatan ini, sodara-sodara. Kapan lagi (jaman gini) dapat yang gratis dan bagus?

Trivia

Di area depan, setelah pintu masuk, ada vending machine yang menjual minuman kemasan seperti teh botol, coca-cola, ades, pulpy, dan sejenisnya. Harganya patok rata, 5000 rupiah. Cony yang agak “norak” ketagihan beli minum disitu :p. Sensasi masukin duit 5000, pencet-pencet tombol, dan melihat si mesin otomatis memilih dan “mengambilkan” minuman kita itu sesuatu banget lho *norak*.

Beberapa patung disini memberikan kesan spooky (in a good way though). Tapi kata Brown sih, auranya positif😀
Sayang nggak ada tempat makan, cafe misalnya, di area museum. Kan lapar banget, abis keliling dua jam di museum. Tapi saya juga nggak setuju sih kalo akhirnya banyak pedagang keliling yang mangkal disini. Pasti jadi berantakan dan kotor deh😀 Kalo cafe2 kecil yang terorganisir dengan baik sih boleh aja.

Museum BI diresmikan melalui dua tahap: 15 Desember 2006 oleh Gubernur BI saat itu, Burhanuddin Abdullah, dan peresmian tahap II oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21 Juli 2009 (grand opening). Semoga BI bisa mempertahankan dan bahkan meningkatkan kinerja museum ini seterusnya🙂.

Dari museum ini, kalo mau jelajah Kota Tua dengan jalan kaki (atau sewa sepeda) bisa jalan ke arah kiri dan kita akan langsung nemu area masuk ke Kota Tua. Kalo bawa kendaraan, lebih baik parkir di halaman museum aja, karena area Kota Tua yang ini memang khusus pejalan kaki. Btw, Kota Tua juga menjadi sebuah atraksi baru buat Brown dan Cony lho. Kita sempat “icip-icip dikit”, tapi belum puas ah. Selanjutnya, kita bakal eksplor Kota Tua lebih jauh lagi ^_^.

Oke, selamat menikmati Kota Jakarta! Ingat ya untuk selalu menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan kita :)***

XOXO,

Cony.

4 thoughts on “Museum Bank Indonesia: Standing Applause!

  1. Pingback: Teduhnya Masjid Modern di Lingkungan Kolonial Museum BI | My Book of Days

    • Sorry revision. I mean I’ve never been to Museum Mandiri, but I have been to many museums, like Geology Museum, Gajah, GAWITRA, Textile, Batik, and many more. But I think MBI is the best among its kin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s