Review: Melahirkan Gratis dengan BPJS di RSIA Bunda Aliyah

Sudah lamaaa sekali saya niat nulis tentang ini. Tapi niat tinggal niat kalo nggak diwujudkan😀, ya kan? So, sekarang (walaupun waktunya kurang tepat karena lagi deadline dan kerjaan freelance juga numpuk) saya memutuskan untuk mengikuti “insting penulis” (saaah…) dan berbagi pengalaman yang siapa tahu berguna untuk pembaca yang sudah mau mampir di blog ini.

Waktu hamil anak pertama kemarin, saya dan suami cukup pusing karena belum punya persiapan apa-apa menjelang kelahiran (jangan ditiru nih). Pengeluaran lagi banyak-banyaknya, belanja perlengkapan baby yang segudang juga bikin dompet terkuras, dan parahnya, kita lagi nggak punya tabungan (heh, emang sekarang punya? Haha..). Jadi waktu itu saya tanamkan dalam-dalam di pikiran bahwa gimanapun caranya, saya harus melahirkan normal. Apalagi setelah tahu biaya melahirkan SC (sectio caesaria) alias operasi caesar itu mahalnya nggak ketulungan. Ya, itulah yang akhirnya membuat saya berencana untuk melahirkan di klinik bersalin dekat rumah saja yang biayanya terjangkau. Apalagi saya juga USG dan cek kehamilan rutin disana. Lagipula, klinik tersebut sudah bekerjasama dengan RSIA Evasari, jadi kalo ada apa-apa bisa langsung “dievakuasi” kesana.

Waktu hamil itu memang saya setiap bulan USG, karena penasaran dengan perkembangan si bayi mungil di dalam. Mama saya mungkin “gerah” lihat saya kecentilan USG tiap bulan, suka ngomel karena berasumsi kalo biaya USG tiap bulan itu gak worth-it. Memang sih, kalo menurut beberapa dokter kandungan yang jadi tempat konsultasi saya selama hamil, USG hanya perlu dilakukan 3x saja selama kehamilan, di awal kehamilan, di pertengahan, dan beberapa saat menjelang lahiran. Well, singkat cerita, Mama akhirnya menyarankan untuk periksa kehamilan di Puskesmas Pembina Jatinegara saja, karena bisa gratis untuk peserta BPJS Kesehatan.

Jujur waktu pertama kali mendengar saran Mama, saya tidak terlalu menanggapi karena sangsi dengan kualitas layanan yang diberikan untuk peserta BPJS Kesehatan. Gratisan gitu lhoooo… apalagi menyangkut kehamilan dan janin, kalo ada apa-apa kan serem. Selama berminggu-minggu Mama terus tanya apa saya sudah buat BPJS, dan saya jawab belum. Lagipula, antrinya itu lho… malesin. Untungnya kantor suami ternyata memfasilitasi keanggotaan BPJS Kesehatan untuk keluarga, jadi saya bisa dibuatkan BPJS tanpa harus antri sendiri. Alhamdulillah.

Singkat cerita, Mama sukses “memaksa” saya periksa kehamilan di puskesmas, dan ternyata pelayanan mereka bagus koq. Bidan-bidannya (walaupun beberapa agak tegas) baik dan mau mendengarkan keluhan saya. Ruangan periksa juga ber-AC dan cukup nyaman. Minusnya, periksanya nggak private karena dalam satu ruangan ada banyak bidan dan banyak bumil yang juga sama-sama diperiksa. Jadi nggak seperti kalo konsultasi ke dokter kandungan di RS, dimana kita masuk sendiri atau berdua suami ke dalam ruang dokter untuk konsultasi dan diperiksa kandungannya.

Oh ya, saya juga akhirnya tahu kalo  melahirkan di puskesmas-pun bisa karena sudah ada fasilitas klinik bersalin di Puskesmas Pembina Jatinegara. Bagusnya lagi, semua biaya akan ditanggung BPJS dan kita bisa melahirkan gratis-tis-tis alias tanpa biaya, dengan catatan kehamilan sehat dan tidak ada masalah untuk melahirkan normal. Tapi ternyata, setelah beberapa kali periksa dan usia kehamilan makin tua, tanda-tanda masalah mulai muncul.

Ceritanya, walaupun rutin periksa di puskesmas, saya tetap rutin USG tiap bulan, dan setelah usia kandungan diatas 32 minggu tiap dua minggu sekali. USG di klinik bersalin menunjukkan kalo si bayi di dalam sana masih belum juga turun. Akhirnya, saya cari opini kedua, yaitu USG di RS Polri, dengan rujukan dari puskesmas. Karena menggunakan BPJS, USG di RS Polri ini gratis, tapi saya nggak puas dengan hasilnya. Masih penasawan dan nyari opini ketiga, saya USG lagi di RSIA Bunda Aliyah dengan dr. Sri Pudyastuti, SpOG (K), konsultan fetomaternal yang pasiennya super banyak… dr. Sri bilang nggak ada masalah, tunggu saja nanti juga bayinya turun.

Tapi nampaknya Allah berencana lain. Si bayi menolak turun, dan bahkan di usia kandungan 36 minggu, saya belum pernah merasakan adanya kontraksi, walau kontraksi palsu (Braxton Hicks) sekalipun. Saya dan suami heran dong, ini si dedek koq betah banget di dalem, nggak juga ngajakin keluar. Hiks… Setelah periksa lagi di puskesmas, bidan pencet-pencet perut saya. Emh, sebetulnya bukan pencet sih, tapi lebih kepada nyomot keras-keras di perut bagian bawah untuk nyari kepala bayi. Rasanya lumayan sakit, dan saya disuruh tarik dan buang nafas untuk nahan sakitnya. Ternyata, kepala bayinya memang masih jauh dari jalan lahir. Akhirnya, bidan merujuk saya untuk diperiksa di RS, dan tanya dokter kandungan apakah bisa lahir normal atau harus SC (bidan nggak punya wewenang untuk menentukan).

RSIA Bunda Aliyah. Foto dari cekspot.com.

RSIA Bunda Aliyah. Foto dari cekspot.com.

Mbak bidan yang baik ini tanya saya, kemana mau dirujuk. Dia sih menyarankan untuk dirujuk ke RS pemerintah, seperti RS Budhi Asih atau Persahabatan, karena semua biaya ditanggung 100%, sementara di RS swasta bisa saja nggak ditanggung 100%. Tapi karena berbagai pertimbangan, dekat dari rumah dan karena memang sudah sering periksa di RSIA Bunda Aliyah, saya minta dirujuk kesana. Langsung saya dan suami cabut kesana, dan memilih konsultasi ke dr. Sarah Alatas, SPOG, M.Kes, karena memang pengen dokter perempuan (catatan: konsultasi ke dr. Sri Pudyastuti nggak bisa pakai BPJS).

Konsultasi dengan dr. Sarah cukup memuaskan. Dokternya tegas, tapi keibuan dan perhatian. Saya di-USG, dan menurut dokter memang kepala bayinya masih jauh dari jalan lahir. Saya disarankan SC. Langsung lemes. Gemeter. Kaki nggak terasa napak.

Menurut dokter, usia kandungan sudah 37 minggu, artinya 9 bulan lebih seminggu. Boleh saja nunggu, tapi mau sampai kapan dan kalo memang bayinya tetap nggak turun, harus ngulang prosedur yang sama, minta surat rujukan dari puskesmas, dan bikin jadwal operasi di RS. Mengingat jumlah kamar perawatan untuk pasien BPJS terbatas, belum tentu langsung bisa dapat jadwal. Akhirnya disitu juga, dengan badan masih gemetar dan telapak tangan dingin, saya dan suami setuju untuk SC hari Senin berikutnya, tanggal 15 Desember 2014.

Malam sebelum hari H saya berdoa dan terus berpikir positif. Ini operasi pertama saya, seumur-umur. Tapi demi bayi saya, harus kuat! Tapi Alhamdulillah, perasaan saya tenang dan saya bisa rileks menjelang operasi. Semua baju dan persiapan menyambut bayi sudah beres. Tanpa menginap untuk observasi sehari sebelumnya (seperti SC pada umumnya) saya berangkat jam 7 pagi untuk dioperasi jam 12 siang. Oh ya, suami sudah jalan duluan untuk urus administrasinya. Saat itu, dokumen yang diminta adalah surat pengantar operasi dari dr. Sarah, fotokopi KTP suami 1 lembar, fotokopi KTP saya 1 lembar dan fotokopi kartu BPJS saya 4 lembar. Surat rujukan puskesmas sudah tidak perlu karena sudah diberikan di awal ketika konsultasi dengan dr. Sarah.

Sesampainya di RSIA Bunda Aliyah, saya langsung diproses ke ruang observasi untuk persiapan SC, seperti rekam jantung, tensi, mengeluarkan isi perut dengan obat pencahar, dan sebagainya. Saya cukup senang, karena ternyata pelayanan mereka bagus. Staf dan dokternya ramah, dan prosedur dijalankan dengan baik. Sebelum masuk ruang operasi, saya dijelaskan mengenai anestesi dan semua efek yang bisa dirasakan. Jam 11:30, saya masuk ruang operasi. Wah deg-degan. Saat itu ada Suami, Mama, Bapak, Mama Mertua, Om, dan kedua adik saya yang menunggu di luar. Nggak ada yang diperbolehkan masuk ke ruang operasi.

Dokter Sarah dan tim nya (termasuk dr. Johanes Edwin, SpA yang nantinya akan menangani anak saya) sudah di dalam. Di ruang operasi yang super dingin itu, dengan hanya memakai baju operasi, saya disuntik di bagian tulang punggung. Setelah itu, dari dada ke bawah saya mati rasa. Tapi rasanya bener-bener mual, dan selama operasi berkali-kali saya muntah. Hanya dalam setengah jam, bayi saya berhasil dilahirkan. Alhamdulillah, Allahu Akbar. dr. Edwin menunjukkan si bayi yang sudah bersih kepada saya, dan meletakkannya sebentar di dada saya. Sayang sekali, karena SC tidak bisa melakukan IMD (inisiasi menyusui dini).

Walaupun kepala melayang dan mual tingkat tinggi, perasaan ketika pertama kali melihat anak saya nggak terlukiskan. Haru, bahagia, tapi juga heran (ini mirip siapa ya… wah, ternyata mukanya begini, tapi koq begini? Haha). Bayi perempuan cantik dan sehat itu saya dan suami beri nama Hanifa Ilhana Humaira, yang artinya si pembawa kebahagiaan yang cantik dan shaleha.

Selepas operasi, sayapun dibawa ke ruang perawatan. Semua suster dan bidan yang menangani ramah dan helpful. Selepas maghrib, Hana (bayi saya) dibawa ke ruang perawatan dimana saya, suami dan keluarga menunggu. Selama 3 hari berikutnya, saya dan Hana dirawat. Oh ya, sehari setelah Hana lahir, suami saya langsung daftarkan BPJS sehingga Hana juga bebas biaya perawatan. Selama dirawat, obat-obatan ditanggung BPJS, dan kalaupun ada yang diluar tanggungan, sebelumnya mereka infokan. Sebisa mungkin dr. Sarah hanya meresepkan obat-obat yang ditanggung BPJS, tapi untuk perban saya minta yang waterproof, walaupun harus bayar sendiri.

Mengenai pelayanan, saya rasa pelayanan di Bunda Aliyah bagus, tidak membedakan antara pasien reguler dengan BPJS. Para staf juga helpful. Contohnya, ketika saya nggak bisa tidur semalaman karena mastitis (pembengkakan PD karena ASI tersumbat), jam 2 pagi bidan datang dan bantu memijat dan mengompres air panas. Juga ketika Hana mengalami kesulitan menyusu dan saya kesulitan memerah ASI, bidan dan perawat membantu mengajarkan pijat PD dan memerah dengan tangan. Mereka juga rutin menanyakan perkembangan menyusunya si bayi, apakah ada kendala, dan sebagainya.

Oh ya, mengenai ruang perawatan, di RSIA Bunda Aliyah, pemegang kartu BPJS Kelas 1 akan ditempatkan di ruang perawatan kelas 2, seperti saya. Ruang perawatan kelas 2 berisi 2-3 pasien. Untuk BPJS kelas 2, ditempatkan di ruang perawatan kelas 3, berisi 4 pasien. Jadi, pasien BPJS kelas 1 = pasien reguler kelas 2. Selain itu, semua perawatan dan perlakuan tetap sama. Overall, saya sangat puas dengan RSIA Bunda Aliyah yang memberikan pelayanan prima kepada saya dan bayi saya selama dirawat.

Setelah pulang, Hana masih punya jatah 1 kali kontrol ke dr. Edwin sementara saya punya jatah 1 kali kontrol ke dr. Sarah. Jika ditotal, saya dan suami hanya mengeluarkan biaya total 500 ribuan rupiah saja untuk beberapa tambahan, seperti sunat, perban, ban tangan bayi, dan beberapa administrasi. Sementara, teman dan tetangga saya habis 17-19 juta rupiah untuk melahirkan SC di rumah sakit yang sama. Alhamdulillah ya… memang pertolongan Allah itu dekat.

Alhamdulillah, Hana sekarang sudah jalan 6 bulan.

Alhamdulillah, Hana sekarang sudah jalan 6 bulan.

So, untuk ibu-ibu yang mempertimbangkan untuk melahirkan dengan BPJS, ini beberapa hal yang perlu dicatat:

  • Lahiran normal dengan BPJS hanya bisa dilakukan di Faskes Tingkat I, alias puskesmas. Kalo puskesmasnya nggak punya fasilitas lahiran, akan dirujuk ke puskesmas pembina seperti Puskesmas Jatinegara. Jadi kalo normal, maaf ya ibu-ibu, nggak bisa di rumah sakit🙂
  • Lahiran dengan BPJS di rumah sakit hanya bisa dilakukan jika ada masalah dalam kehamilan, atau faktor lainnya sehingga harus SC.
  • Untuk melahirkan SC di rumah sakit, yang perlu disiapkan adalah surat rujukan dari puskesmas (Faskes Tingkat I). Surat ini sebaiknya difotokopi.
  • Puskesmas hanya akan memberikan surat rujukan jika memang diperlukan. Nggak bisa kita tiba-tiba minta gitu aja, padahal hamilnya sehat, gak ada masalah, dan bisa lahir normal. Pasti nggak dikasih.
  • Keperluan administrasi ketika mendaftar untuk SC di RSIA Bunda Aliyah: surat rujukan puskesmas, surat pengantar operasi dari dokter yang menangani, fc KTP suami 1 lbr, fc KTP istri 1 lbr, fc kartu BPJS Kesehatan 4 lbr.
  • Untuk bayi, sebaiknya sudah didaftarkan BPJS sebelum dilahirkan. Atau setelah bayi dilahirkan, segera buatkan BPJS sebelum jadwal pulang. Fotokopi kartu BPJS bayi yang banyak, untuk jaga-jaga. Selengkapnya baca disini.
  • Jika bayinya nggak punya BPJS (seperti pasien di sebelah saya) harus membayar sekitar 2,5 juta untuk biaya perawatan bayi di RSIA Bunda Aliyah.
  • Siapkan fotokopi KTP suami istri, BPJS istri dan BPJS bayi sebanyak-banyaknya. Pasti kepake.
  • Kalo mau nanya-nanya soal BPJS, telepon aja ke Bunda Aliyah langsung.

Nah, itu dia pengalaman saya. Maaf kalo tulisannya agak berantakan, dan tata bahasanya campur2. Soalnya buru-buru mau kerjain yang lain. Semoga bermanfaat!

Kontak:

RSIA Bunda Aliyah

Jl. Pahlawan Revolusi No.100 Pondok Bambu, Jakarta Timur,

Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13430, Indonesia

Phone:+62 21 86602525

 

 

 

 

 

23 thoughts on “Review: Melahirkan Gratis dengan BPJS di RSIA Bunda Aliyah

  1. halo mbak salam kenal,
    kebetulan aku tinggal di daerah jaktim juga. skrg sedang hamil 5bln tapi lg bingung cari faskes I yg cukup baik di wilayah pondok bambu, jatinegara, kalimalang dan sktr.

    1. apa mba mungkin ada masukan untuk faskes I yang cukup oke untuk lahiran normal di wolayah tsb?
    2. mbak tahunya dr.Sarah itu dokter yang beerja sama dg BPJS gimana ya? apa saat konsul tanya langsung / bgmn ?🙂
    3. utk lahiran SC, sy baca selain surat rujukan dr faskes I juga ada surat keterangan operasi dr dokter yg menangani. maksud nya dokter pada faskes I ya mba?
    4. apa bisa bayi didaftarkan 3 bln sblm kelahiran?

    mohon bantuannya ya mba, saya jujur bingung mau pilih faskes I dimana krn wilayah tmp tinggalnya dperbatasan bekasi spt ini ..terima kasih ya mba🙂

    • salam kenal jg mbak dini
      aku jawab ya, moga2 membantu
      1. Kalo rekomendasi puskesmas utk melahirkan normal aku ga bs kasih, krn blm pernah lahiran normal di puskesmas (anak baru satu, SC juga). Tp aku di puskesmas Jatinegara (Seksi 7) pelayanannya cukup oke utk periksa hamil, walaupun aku selalu periksa juga ke dr kandungan (sekalian USG krn di puskesmas gak bisa USG). Cukup puas sama puskesmas Jatinegara utk periksa2 hamil. Fasilitas utk lahiran disitu kayaknya lumayan juga sih. Oh ya, puskesmas Duren Sawit juga punya fasilitas utk lahiran. Oh ya, di puskesmas (faskes I) gak ada dokter spesialis ya. Hanya ada dokter umum dan bidan.
      2. Semua dokter kandungan di bunda aliyah bs pakai BPJS kecuali dr. Sri Pudyastuti mbak. Soal puas atau gak sama dokter, cocok2an sih.
      3. Bukan, dokter kandungan yg menangani operasi (jd kalo saya, dari dokter sarah). Tentu saja yg pertama diminta adalah rujukan dari puskesmas utk konsultasi dengan dokter bunda aliyah (dengan catatan, bidan puskesmas (faskes I) menemukan ada masalah pada kehamilan sehingga butuh keputusan dr kandungan apakah bisa normal atau harus SC). Seingetku setelah dapat rujukan dr puskesmas (faskes I), lalu dokter memutuskan SC, kita gak harus minta rujukan lagi dr puskesmas. Tinggal tunjukin surat keterangan operasi dari dokter kandungan ke bagian administrasi pendaftaran bunda aliyah.
      4. Bisa. Sebaiknya cepet2 klo daftar perorangan, biar segera jadi.

      Nah itu mbak klo ada yg blm jelas silakan tanya lagi🙂

  2. Assalamualikum mba, kaka saya sc dengan bpjs senilai 17 jutaan, tapi yg di cover cm 5 juta. Bisa memberi jawabanya yg memuaskan ?

    • Waalaikumsalam mas.. Kayanya gak akan bs memuaskan karena pertama, saya bukan org BPJS jd gak bs menjelaskan kenapa ada yg coverage full, knp ada yg cuma setengah2. Kedua, saya gak tau kakaknya mas lahiran di mana :))

      Review saya cuma based on pengalaman pribadi saja mas. Bukan cuma melahirkan, kmrn anak saya rawat inap di Bunda Aliyah kelas II dgn BPJS full coverage. Hanya bayar 2500 perak utk gelang pasien.

      Kalo kesimpulan saya pribadi (yg mana belum terkonfirmasi) klo mau pakai BPJS kita juga harus survey dan pintar2 milih rumah sakit krn gak semua rumah sakit “bener” menangani pasien BPJS.

      Hth🙂

  3. Saya tgl 1 oktober 2015 lahir di RS bunda aliyah secara SC, emang pelayanan nya sangat bagus,baik, ramah, tapi yang buat saya kecewa ketika saya minta SC tgl 4 Oktober 2015 dr. Siti Musrifah, SpOG bilang ga bisa karna beliau mau ke madiun ketemu Bapa nya, saya di anjurkan tgl 1 lahiran nya, oke saya nurut perkataan dokter, emang saya pake BPJS pasien harus mau di atur oleh dokter,dan dokter ga mau di atur sama pasien BPJS,setelah saya di operasi dan membuat saya kecewa lagi saya pakai BPJS kelas 1,tapi sama suster nya di taro di kelas 3 yang satu ruang ada 6 pasien ruangan nya panas,mungkin karna banyak pasien, setelah saudara saya liat kelas 1 sama kelas 2 pada kosong,alasan suster ngasih saya kelas 3 karna semua ruangan penuh,dan bilang kalo ini hanya sementara, setelah saya tanya ulang kapan di pindahkan suster,suster pun jawab udah ga bisa soal nya penuh,disitu saya merasa di permainkan oleh pihak RS,setidak nya ya saya pake BPJS kelas 1 jangan di simpen di kelas 3 ,tiap bulan nya juga saya bayar, itu lah taktik permainan RS bunda aliyah, tapi yaudah yang penting saya dan anak saya selamat.

    • Iya mbak, sama saya juga ditempatkan di kelas 3 yg sekamar 6 orang (harusnya kelas 1) dengan alasan penuh. Waktu itu saya kecewa juga tapi setelah dipikir2 ya sudah lah yang penting bisa SC dan selamat. Tapi bbrp minggu lalu waktu anak saya sakit, dan masuk RS Bunda Aliyah ditempatkan di kelas 3 juga. Tapi kita minta sama org BPJS nya, klo ada kosong minta dipindah ke kelas 1 (kelas 1 BPJS = kelas 2 reguler yaitu 2 org sekamar). Suami juga bilang sama suster dan org BPJS yg ada di bunda aliyah, “Kenapa ya klo kelas 1 di sini pakai BPJS selalu dibilang kosong?” Akhirnya anak saya dipindah ke kelas 1 BPJS begitu ada pasien yg keluar.
      Yah, harus minta2 dulu gitu sih baru dipindahkan, dan harus minta sama org BPJS nya langsung, gak sama suster kayaknya.

  4. salam kenal Mbak Cony, terima kasih atas info nya lengkap banget. ada beberapa yg mau aku tanyain;
    —– RS Bunda Aliyah termasuk RS swasta ya bun? (bingung karena walaupun dapat rujukan dari faskes 1 tapi bisa tetep gratis ya untuk biaya persalinannya? yg tadi dijelaskan disarankan ambil RS pemerintah karena gratis)

    terima kasih Mbak Cony sebelumnya🙂

    • Hi Mbak Rosa,

      Bunda Aliyah swasta mbak.
      Untuk rumah sakit rujukan, swasta atau pemerintah tetap bisa terima BPJS. Bedanya klo pemerintah pasti full ditanggung, klo di swasta belum tentu full ditanggung. jadi klo mau minta rujukan ke rs swasta baiknya riset dlu seberapa bagus pelayanan RS tersebut kepada pasien BPJS. Klo di Bunda Aliyah mnrt saya pelayanan BPJS nya bagus, dan hampir semuanya ditanggung kecuali obat paten, ban tangan, dan bbrp hal lainnya seperti sunat bayi, KB, tindik, dll. Jadi sebagai pasien BPJS harus aktif dan rajin tanya2 sampai detail hehe

      HTH mbak🙂

  5. aku juga lagi bingung nich bun,, kl ngikut klinik dket rmh caesar pke bpjs rujukan bidan kna cas skitar 3,5jt… nah kl dr klinik faskes tingkat 1 blg bisa di RSIA bnda aliyah tp kna cas jg 10jtan….duuh jd bingung mana yg benar.. jd pnasaran pengen nanya langsung ke Rs tsb… krn minggu kehamilanku sdh 33w….

    • Lho koq aneh ya mbak pake ada charge2 begitu… aku selama ini pake BPJS gak pernah ada yg namanya biaya kayak gitu, baik waktu lahiran, atau waktu anak sakit. Skrg anakku juga terapi tumbuh kembang di Bunda Aliyah pakai BPJS nggak ada biaya apapun sama sekali. Mungkin mbak tanya langsung aja ke Bunda Aliyahnya trus kalo perlu pindah faskes klo di faskes yg skrg dipersulit (setahuku bisa tapi mungkin bisa cari info lagi mba)

      Semoga lancar lahirannya ya dan sehat selamat ibu dan bayinya🙂

  6. Assalamualaikum mba Cony, salam kenal
    Usia kehamilan saya 6bln jln. Sy berencana akan mulai periksa kndungan di RS Bunda Aliyah jg. Beberapa hal yg ingin saya tanyakan :
    1. Saat periksa dg bpjs di bunda aliyah semuanya benar2 gratis kan, sampai dg vitaminnya?
    2. Berapa biaya saat konsul dg dr sri pudjiastuti yg tdk di cover bpj?
    3.berapa biaya usg di bunda aliyah?
    4. Jika ingin periksa dg bpjs lg fi bunda aliyah brrtu tinggal pakai fotokopian srt rekomendasi dr faskes satu kan ya ?

    • Waalaikumsalam mbak Selma,
      Saya coba jawab ya:
      1. Periksa hamil (seperti konsultasi dokter untuk penyakit apapun) gratis jika ada rujukan dari Faskes I (rujukan hanya diberikan jika kehamilan bermasalah dan Faskes I nggak bisa mengangani). Obat generik gratis, obat paten bayar.
      2. dr Sri Pudyastuti seluruhnya tdk ditanggung. Waktu periksa di beliau, dengan USG sekali periksa klo gak salah 750rb an.
      3. Mungkin bs tanya langsung ke Bunda Aliyah di no telp yg tertera (saya bukan org Bunda Aliyah hehehe)
      4. Maksudnya gmn mbak? Surat rekomendasi terus berlaku selama pemeriksaan masih berlangsung (termasuk kalo ada rujukan ke lab atau ke dokter lainnya, misalnya ke dokter kulit), gak perlu minta2 lagi. Kecuali kalo pemeriksaan sudah selesai, terus ada keluhan baru dan mau diperiksa lagi ke RS, baru minta rujukan lagi.

      untuk jelasnya, silakan hubungi BUnda Aliyah langsung ya mbak🙂
      HTH

  7. Artikel yang bagus. Berguna banget bagi yang membutuhkan.

    Aku terakhir kali melahirkan pakai askes. Belum ada BPJS. Sama kayak BPJS, askes dulu juga seperti itu. Ke Faskes 1 terlebih dahulu. Jika ada apa-apa, baru dirujuk ke Rumah Sakit. Karena dulu ketuban pecah duluan, aku dirujuk ke rumah sakit. Dulu yang ditanggung askes cuma sedikit. Jadinya, bayarnya masih tetep mahal. Walopun sekarang punya BPJS, udah ah gak mau melahirkan lagi. Anakku udah 4. Hehehehe…

    • makasi udh mampir mba niaharyanto🙂
      Iya kata orang ASKES dulu lebih simple daripada BPJS yaa… tp ada plus minusnya kali ya.. hehe
      wah, rame yaa di rumah.. aku kepingin deh nambah lagi tapi yg ini masih kecil,,kasian

  8. Aslkm.pagi mba cony salam kenal…saya sangat sennag dengan penjelasan yang mba kasih.sangat membantu sekali.saat ini saya sedang H2C menanti kabar kehamilan saya (sdh telat 1 bulan hasil testpack positif,tapi di usg masih belum kelihatan).tapi saya sudah memikirkan mengenai kontrol tiap bulan dan melahirkan ingin menggunakan BPJS.oh ya ini kehamilan saya yg kedua.sebelumnya anak pertama saya juga ditangani dr.sarah alatas di RSIA.bundq aliyah..mba mau menyakan : kalau untuk kontrol tiap bulan bs tidk mba menggunakan bpjs,karena di faskes 1 saya (klinik melati) tdk ada fas untuk periksa kandungan,hanya ada dokter umum.itu dulu mba.terimakasih.

    • Hi Mba rahayuwati,

      Selamat ya semoga lancar kehamilan dan persalinannya🙂

      Untuk masalah faskes itu mungkin baiknya tanya langsung ke bagian BPJS di faskesnya mba. kalo memang perlu mereka akan rujuk., tapi bisa jadi ngga langsung ke RS, tapi ke faskes lain yg punya fasilitas utk melahirkan

  9. Assalamualaikum mb, sy insya Allah lahiran akhir bulan ini dan berencana pake bpjs.. berkas yg diperlukan nggak pake KK kan mb? Soalnya ini hamil pertama saya dan saya pasangan muda baru yg blm buat KK. Sy berfikir buat KKnya nnti aja setelah anaknya lahir biar sekalian.. tp sy bingung kok sy googling ada persyaratan hrus ada KK. Sedangkan tulisan blog mb berkas yg diperlukan nggak menyebutkan ada KK. Tolong dibls ya mbak mksih🙂

    • Hi Adelia,

      Waalaikum salam.. wah selamat yaa semoga persalinannya lancar. Utk mendapat layanan RS dengan BPJS gak perlu KK, tapi utk daftarkan bayi ke BPJS perlu KK. Seperti saya bilang di atas, Bayinya harus didaftarkan BPJS juga supaya bisa ditanggung

  10. assalamualaikum mba cony aku juga sama nih kasusnya ama mba adelia yg blom punya kk tp calon bayi aku udah aku daftarin bpjs dan udah ada e-id bpjsnya dan katanya pun udah aktif dan bisa d pakai waktu pndaftaran aku pake kk ortu statusnya masih anak jadinya kira2 nanti kalo ada indikasi rujukan k rs buat pembayaran bayi yg udah trdaftar bpjs harus ada kk ga ya?

    • Waalaikum salam mba Verty,
      Kalo untuk detail seperti itu baiknya mbak telefon langsung ke Bunda Aliyahnya, minta disambungkan ke petugas BPJS di RS tersebut. Saya nggak tau sampai sedetail itu mbak.. jd baiknya ditanya langsung aja yah…
      Semoga lancar persalinannya dan bayinya sehat
      Makasih🙂

  11. kalo bayinya udah terdaftar bpjs nanti cara ngajuin penebusan bayi pake bpjsnya gmn mba? tp aku jg sama blom ada kk waktu daftar kmren pake kk ortu soalnya tp calon bayi aku udah ada e-id bpjsnya dan katanya udah aktif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s